Artikel

Sudah Tahu? Filosofi Tentang Rendang

Jejakuliner.com, Rendang adalah makanan khas Padang dan merupakan makanan terenak di dunia. Rasanya yang khas yang dicampur dengan bumbu rempah dari Indonesia membuat para pecinta kuliner dari berbagai negara sangat suka dengan makanan ini.

Sampai sekarang, masih banyak orang penasaran akan asal muasal Rendang. AkuratKuliner pada beberapa hari lalu berkesempatan hadir di Festival Nusantara Marandang. Di sana kami bertemu Harti Ningsih, salah satu pemilik UMKM dari Padang. Ia pun berbagi cerita soal filosofi rendang. Masakan yang banyak menggunakan kelapa ini, kisahnya, mempunyai filosfi yang sudah ada sejak dari zaman dulu, nenek moyang.

“Punya empat komponen, yang pertama itu daging. Sama seperti daerah lainnya di Sumatera Barat, banyak yang sudah pakai jengkol, tuna, pare atau bahan lainnya sebagai pengganti daging,” ucapnya.
Lalu, ada kelapa. Bahan baku kedua ini sangat penting. Bukan rendang namanya kalau tidak ada kelapa.

“Di Jakarta, di tempat lain atau di Sumbar itu sama. Bedanya, adalah bumbunya. Kita pakai asli santan. Bukan berarti di daerah lain kelapa atau santannya tidak asli. Cuma, minyak yang dihasilkan dari kelapa beda, kita lebih manis rasanya,” ungkapnya.

Kemudian, ada cabai dan bumbu. Dua bahan ini memberi cita rasa khas.

“Kita selalu pakai cabai keriting. Lalu, bumbu yang dinamakan sama seperti yang biasanya. Tapi, kalau punya Sumbar, dia ramai dengan bumbu-bumbu. Banyak komponen lainnya,” tukasnya.

Lantas, apa filosofi dari masing-masing setiap bahan baku pembuatan rendang itu? Nah, berikut ini, filosofi singkat yang kami rangkum.

Dagiang (daging sapi)

Rendang memang komponen utamanya adalah daging sapi pilihan. Oleh sebab itu, daging merupakan lambang dari Niniak Mamak atau disebut para pemimpin suku adat

Karambia (kelapa)

Setelah daging, yang membuat rendang nampak gurih yakni karambia atau kelapa. Ini juga merupakan salah satu lambang dari Cadiak Pandai atau disebut kaum intelektual

Lado (cabe merah)

Adalah lambang dari alim ulama yang tegas dalam mengajarkan agama. Di lambangkan dengan cabe yang pedas.

Bumbu

Lalu yang terakhir bumbu. Bumbu pembuatan rendang khas masyarakat Minang sangat berbeda. Bumbu yang dipakai juga kaya akan rempah sehingga menghasilkan cita rasa yang lezat.

Sumber: AKURAT.CO

Related posts

Tips Kulit Ayam Goreng Krispi dan Gurih

wahyudi

Empal Gentong H. Apud

wahyudi

Lezatnya Kuliner Kota Daeng

wahyudi

3 comments

Leave a Comment